Untuk Sahabat

Pernah kita goda banci
Diperempatan biasa kita minum kopi
Diapun kecentilan dan menghampiri
Kuingat kau ketakutan dan grogi

Dia duduk disebelahmu
Ngobrol dan meraba pahamu
Aku persis didepanmu
Perut kaku menahan tawaku

Kau katakan setelah itu

“aku hampir pingsan tau!!”

Pernah juga kita goda wanita sejati
Tekstur mukanya sungguh bak bidadari
Semua pasti mengagumi seolah bukan dari bumi
Aduhai lekuk tubuhnya tiada yang tandingi

Kau mulai keluarkan jurus basi
Siulan kuno tak ada arti
Tapi selalu kau jalani
Seolah otomatis alami

Terlihat dia ilfill sekali
Semakin kau merdukan tanpa melodi
Kukerlingkan mata kiri
Eh ekspresinya datar dan pergi

Kukatakan setelah itu

“Dasar nasib lelaki tak laku!!”

Kini kau tak terlihat lagi kawan
Berlayar meraih cita, cinta dan harapan
Di ranah yang sempat kau impikan
Rasakan bias mentari yang sama ketika kita khayalkan

Kunyanyikan bait untukmu…

“…Banyak sudah kisah yang tertinggal
Kau buat jadi satu kenangan
Seorang sahabat pergi tanpa tangis arungi mimpi
Selamat jalan kawan cepatlah berlabuh
Mimpimu kini telah kaudapati
Tak ada lagi seorangpun yg mengganggu
Kau bernyanyi….”

Selamat Jalan Sahabat
Dihatiku kau selalu yang terhebat

20 September 2008, diatas atap yang membosankan

 

Print this pageEmail this to someoneShare on Facebook32Tweet about this on Twitter1Share on Google+39Share on LinkedIn0Share on Tumblr
0 votes

Untai kata, beriringan menyapa kita, Terima kasih semua.

Salam Redaksi

Puisi tentang sahabat sejati selalu menarik untuk melukiskan betapa berartinya persahabatan yang terjalin. Seolah ketika kita bertemu sahabat, ada ikrar yang tak terucap dan tak terpikirkan namun tertulis pada keadaan bahwa "kau adalah sabatku yang terbaik", walau sebagai manusia tak luput dari kesalahan, sahabatmu itu sebenarnya selalu termaafkan, terbukti dengan mudahnya kamu melupakan kesalahan mereka. Akan tetapi pada beberapa kasus, justeru karena pernah menjadi sahabat sejati terbaik, seka